Top Social

Dilema Ismi

|

“Ismi aku menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?”

Ismi benar-benar tidak dapat mempercayai yang baru saja didengarnya. Hatinya berdegup kencang. Dua buah kalimat yang baru saja didengarnya itu adalah kalimat yang telah dia tunggu selama ini. Dan akhirnya keinginan itu tercapai juga. Terlebih lagi yang mengucapkan kalamat tersebut adalah Ilham, cowok yang selama dua tahun terakhir ini Ismi mimpikan di setiap tidurnya.

Ismi menginjak kaki kirinya dengan kaki kanannya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi. “Ouch! Sakit!” gumam Ismi. Bagus! Tandanya ini bukan mimpi. =D Ingin sekali rasanya Ismi teriak sekencang-kencang memberitahukan hal ini pada seluruh dunia.

Akan tetapi, sekelebat ingatan percakapannya dengan Rudi beberapa hari yang lalu muncul di benaknya, merusak kebahagian yang kini tengah Ia rasakan.


“Mi, loe tahu ngga, tadi si Ilham nanya ke gue, dia minta saran lebih baik dia milih loe, Icha, atau Vina?” kata Rudi bersemangat.

Ismi menggeleng. “Terus?” tanyanya penasaran.

“Teruus gue jawab LOE-lah. Gue suruh dia supaya milih loe. I mean si Icha kan udah punya pacar, ngapain juga si Ilham masih ngarep. Terus kalau si Vina, kan loe tahu sendiri dari sikapnya dia ngga suka sama si Ilahm. Jadi, gue suruh sama elu aja.” jelas Rudi.

Ismi nyengir lebar mendengarnya.

“Loe mesti berterima kasih sama gue.” ujar Rudi bangga.

“Iya, iya”. Ismi manggut-manggut.


Kalau diingat-ingat lagi dengan menganalisis ucapan Rudi, Ismi sadar Ilham tidak benar-benar menyukainya. Dia hanyalah pilihan ketiga sekaligus last choice. Kalau Vina atau Icha mau jadian sama Ilham,pasti saat ini takkan menembaknya. It’s so pathetic. Kesedihan dan keraguan menyusupi hati Ismi, tidak mengizinkan senyum merekah di wajahnya. Hati Ismi berkecamuk. Haruskah dia menolak Ilham padahal ini adalah saat yang telah dia nantikan? Haruskah dia abaikan analisanya? Ismi benar-benar bingung. Tanpa Ia sadari, air mata mengalir dari kedua matanya.

“Ilham, aku benar-benar minta maaf. Tapi bisakah kau beri aku waktu untuk memikirkannya?” tanya Ismi lirih.

Wajah Ilham menunjukkan kaget yang kentara dan menaikkan sebelah alisnya. Namun, nalurinya menyuruhnya untuk tidak bertanya kenapa sehingga Ia hanya mengucapkan “Baiklah, jika itu maumu, Hime1.” sambil mencium tangan Ismi dan kemudian berlutut.

“Trims!” Ismi segera angkat kaki dari taman sekolah walaupun sebenarnya dadanya berguncah karena perlakuan Ilham barusan. Namun, hal itu justru membuat Ismi makin tak kuasa menolaknya.
...
Sore harinya di rumah Ismi

Ismi masih tertidur di kamarnya karena Ia kecapaian menangis. Tadi begitu sampai ke rumah, Ismi membenankan dirinya di bantal dan kaur kesayanganngya dan menangis sejadi-jadinya. Namun, nada dering di handphonenya berbunyi mengusik ketenangannya. Ismi menghiraukan bunyi tersebut. Ia berpura-pura tak mendengarnya. Ismi menutup kedua telinganya dengan bantal. Sayangnya hal itu tidak berhasil, sang penelepon juga sepertinya tidak mau kalah karena handphone Ismi masih terus berdering.

Saat ini, Ismi mengutuki dirinya sendiri karena lupa mensilent handphonenya sebelum tidur. Dia sedang malas menerima telepon karena perasaannya sedang kacau balau. Ismi baru saja mau me-reject telepon tersebut tapi karena ternyata layar handphonenya menunjukkan nama Rudi, sahabatnya yang menelepon, Ia membatalkan niatnya tersebut. Dengan enggan, Ismi mengangkat telepon tersebut.
“Hallo, Rud. Ada apa?”

"Mi.. Akhirnya diangkat juga. Loe tadi kemana sih?”

“Tidur.” jawab Ismi singkat,padat, jelas dan dengan nada jutek mengindikasikan bahwa dirinya sedang malas menerima telepon. Tapi Rudi sepertrinya tidak menangkap sinyal tersebut karena Ia malah menggoda Ismi.

“Ooh.. Pantesan... Kirain ada alien yang nyulik loe. Hehe..”

Ismi tersenyum. “Dasar! Ni cowok masih sempet-sempetnya bercanda.” batin Ismi.

“O ia, ada apa?” Ismi mengulang lagi pertanyaanya.

“Mestinya gue yang nanya gitu. Ada apa dengan loe?”

“Loe kok?!”

“Gue denger dari Ilham katanya loe minta waktu buat ngasih jawaban ke dia. Ngga seperti Ismi yang biasanya, blak-blakan, selalu bilang apapun yang dia rasain kapan pun itu. Tahu ngga? Gara-gara itu Ilham ngga yakin kalau loe suka sama dia. Sebenarnya ada masalah apa sih?”

Ismi menghela napas. Ia berusaha menahan tangis.

“Ilham ngeraguin gue? Bukannya gue yang seharusnya ngomong kayak gitu?!” bentak Ismi.

Rudi tahu betul Ismi jarang sekali marah. Dia jadi khawatir dengan kondisi sahabatnya ini. Selain itu, Rudi mendengar isak tangis dari handphonenya.

“Mi, loe jangan kemana-mana ya.. Gue mau ke rumah loe sekarang. Kalau bisa sih udahan dulu nangisnya. Nanti, pas gue nyampe baru loe lanjutin lagi.”

“Sialan loe! Gue lagi sedih gini malah diajakin bercanda!” umpat Ismi. Tapi, usaha Rudi sukses karena saat ini Ismi menghapus air matanya.
“Ya udah, gue tunggu. Yang cepet ya.. gue kasih waktu 15 menit. Kalau ngga, gue ngga bakal bukain pintu.”

“Rebes, Bos!” sahut Rudi sambil hormat laksana tentara. Tapi percuma, wong Ismi ngga ngeliat.

“Gue tunggu ya.”

bersambung...

Creative Commons License
Dilema Ismi by Hana Bilqisthi is licensed under a Creative Commons Attribution 2.1 Japan License.
Based on a work at shirinotaku.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at shirinotaku.blogspot.com.
Be First to Post Comment !
Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung :D
Yang menulis belum tentu lebih pintar dari yang membaca
Jadi, silahkan kalau mau memberikan kritik, saran, umpan balik & pujian.
:D

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature